Air Bersih Tak Mengalir, Bupati, H. Safrial Membungkam Tanpa Penjelasan

Bahren Nurdin, SS. MA : “Buka dialog dengan masyarakat, namun jika tidak ada bisa jadi ini bagian dari kebohongan,”

 

Kuala Tungkal – jurnalbidas.com. Meski telah memasuki minggu terakhir bulan ketiga tahun 2019 tanda – tanda akan mengalirnya air bersih yang menjadi kebutuhan masyarakat Tanjab Barat Kususnya ibu kota Kab. Tanjab Barat, Kuala Tungkal dari sumber pengelolaan air bersih di teluk pengkah tak kunjung terealisasi.

Padahal di akhir tahun 2017 lalu Bupati Tanjab Barat, H. Safrial dengan percaya diri menyebutkan dan mempublikasikan dalam pemberitaan beberapa media bahwa di akhir tahun 2018 air bersih sudah dapat dinikmati oleh masyarakat Kota Kuala Tungkal, dengan tambahan anggaran + 90 Miliyar di tahun 2018, namun semua yang disebutkan oleh orang nomor satu di Kab. Tanjab Barat itu hanya isapan jempol belaka.

Membungkamnya sang Bupati terkait realisasi air bersih menimbulkan persepsi bahwa telah terjadi pembohongan publik, ditambah lagi para wakil rakyat yang nyaris tanpa suara dalam mempertanyakan hasil dari + 500 Miliyar akumulasi APBD Kab. Tanjab Barat pada mega proyek tersebut seakan telah menghianati suara rakyat Tanjab Barat.

Hal ini membuat Bahren Nurdin, SS. MA selaku pengamat kebijakan publik angkat bicara, Dia menyebutkan apa yang sudah dijanjikan oleh Bupati kepada masyarakatnya namun belum terealisasi, maka masyarakat berhak untuk menuntut janji tersebut. “Itu sama saja dengan kontrak politik, masyarakat berhak menuntut atas apa yang telah dijanjikan,” Ungkap Bahren Nurdin yang juga seorang Dosen UIN Jambi.(22/03)

Lanjutnya, untuk sekarang ini seharusnya Bupati itu membuka dialog langsung dengan masyarakat menyangkut soal air bersih yang belum mengalir dengan apa yang dijanjikan ke masyarakat. Jangan diam – diam seperti ini, sehingga membuat masyarakat bertanya tanya apa sebenarnya yang terjadi. “Buka dialog dengan masyarakat, namun jika tidak ada bisa jadi ini bagian dari kebohongan,” tegasnya.

Mendapatkan Air bersih merupakan hak masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok sehingga sudah menjadi kewajiban pemerintahlah untuk menyediakan. Malang, besarnya kepercayaan masyarakat harus di ganjar dengan menelan pil pahit yang mengoyakkan APBD Kab. Tanjab Barat yang terakumulasi hampir + 500 Miliyar dalam pelaksanaan proyek yang menjadi prioritas sang Bupati yang di kenal visioner.

Tidaklah seorang hamba yang Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk mengatur rakyat (bawahan), tatkala (hari dimana) dia meninggal dunia, sementara ia dalam kondisi berbuat Ghisy (berbuat yang tidak baik) bagi rakyatnya, kecuali Allah akan mengharamkan baginya surga. (HR Bukhari nomor 6617, versi Fathul Bari nomor 7150 dan Muslim nomor 3509, versi Syarh Muslim nomor 142).” Cetus salah satu masyarakat Kuala Tungkal, Mukhtar. (jA01/ St*2)

Komentar