Setahun Kepemimpinan UAS-Hairan, Berkah Ataukah Musibah?

Politik930 views

Opini Redaksi

Setahun kepemimpinan Terpilih UAS-Hairan untuk Bumi Serangkuh Dayung Serentak Ketujuan dengan kabinet BERKAHnya nyaris tak menunjukkan perkembangan segnifikan baik dibidang kebijakan sampai tatakelola pemerintahan hingga pencapaian VISI-MISI ‘BERKAH’ (berkualitas, ekonomi maju, religius, kompetitif,aman, harmonis) yang digadang-gadangkan.

Berkualitas, artinya peningkatan pembangunan sumber daya manusia yang profesional,sehat,cerdas dan inovatif sehingga mampu membawa perubahan, perkembangan dan kemajuan bagi masyarakat.

Ekonomi maju, artinya memaksimalkan potensi daerah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan, perkembangan dan pemerataan perekonomian berkualitas, diiringi dengan laju inflasi yang terkendali, berkurang nya angka pengangguran dan kemiskinan serta tetap terjaga nya kelestarian alam dan lingkungan hidup.

Relegius, artinya menjujung tinggi nilai-nilai akhlak, keadaan sosial, dan toleransi yang menjadi ruh, serta pedoman bagi seluruh masyarakat dan pemerintah.

Kompetitif, artinya menunjukkan kemampuan daya saing daerah di regional dan nasional dengan strategi yang tepat mengunakan karakteristik dan sumberdaya yang dimiliki untuk memperoleh keberhasilan dalam pembangunan.

Aman, artinya peningkatan kualitas sistem keamanan masyarakat dan pembangunan infrastruktur yang adil ramah lingkungan dan terciptanya iklim investasi yang kondusif.

Harmonis, artinya terwujudnya hubungan baik antara daerah, provinsi dan pemerintah pusat. pemerintah daerah dengan masyarakat dalam rangka memberikan pelayanan yang nyaman,harmonisasi beragama,suku,budaya dan kearifan lokal sebagai kota bersama.

Dari ditandatanganinya pembagian 24 sumur migas, perencanaan RAPBD yang tak masuk dalam sistem SIPD hingga dilakukan pembahasan manual, berkutat dalam bongkar pasang pejabat yang berujung pada terbitnya 2 (dua) rekomendasi KASN untuk pengembalian pejabat yang dinonjobkan karena tak melalui prosedur yang benar, pembangunan yang masih tak merata, peningkatan mutu pendidikan yang masih menjalankan warisan rezim lama.

Belum lagi kontroversi Somasi yang dilayangkan salah satu mantan direktur Bank BPR sampai keranah meja hijau hingga diduga masuknya anak kandung sang Bupati pada jajaran Bank BPR tanpa melalui rekrutmen, santreknya isu jual beli jabatan hingga mekanisme berjalannya APBD diduga ada unsur balas budi, lalu kemana perginya BERKAH?

Pembangunan infrastruktur tidaklah dianggap menjadi salah satu keberhasilan dari suatu kebijakan pemerintahan karena pembangunan merupakan kewajiban setiap pemimpin terpilih untuk pembangunan telah tersedia dana APBD, pemerataan dalam pembangunan infrastrukturlah yang menjadi sebuah tolak ukur suatu kebijakan yang berkeadilan.

Menjadi perpanjangan tangan salahsatu koorporasi dalam penyaluran CSR pada rumah ibadah agama tertentu justru akan berpotensi meningkatkan ‘ISU SARA’ karena Tanjab Barat terdiri dari banyak suku dan agama yang harus diperlakukan sama rata, sama rasa, dan bila hanya salah satu koorporasi yang di gadang-gadangkan CSRnya, lalu kemana CSR puluhan koorporasi yang bernaung di Tanjab Barat? mengapa tidak menjadi perahu pencitraan dari sebuah tujuan?.

Tujaan BERKAH bukanlah memperkaya salah satu golongan dan keluarga melainkan demi kesejahteraan Bumi Serangkuh Dayung Serentak Ketujuan, bukankah Tanjab Barat memiliki ragam warna bukan hanya milik satu warna? Semoga BERKAH tetap dalam arti yang sebenar-benarnya. (Red)

Komentar