Terkait Oknum ASN Berinisial AA, Bupati Bilang “Baca Dulu.” Mukhtar, AB Sebut “Masyarakat Awam Pun Faham Dengan Bahasa Persyaratan Tersebut,”

Kuala Tungkal – jurnalbidas.com. Dengan lantang pernyataan Bupati Safrial yang menegaskan tak ada ASN berinisial AA yang keberadaannya disebut – sebut ilegal kembali menambah dugaan kuat adanya maladministrasi pada proses penerimaan 289 CPNS tahun 2010 lalu.

Disamping pengangkatan CPNS 289 tersebut penuh dilematis hingga dibatalkannya penandatanganan SK pengangkatan CPNS pada 24 Januari 2011 oleh Bupati Safrial saat itu oleh Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia karena terkesan ada dugaan pemaksaan kehendak di ujung masa jabatan.

Kini kembali Bupati Tanjab Barat, Safrial lakukan pembelaan terhadap salah satu ASN berinisial AA yang lulus dari perekrutan secara umum tersebut dengan gambalang ke beberapa media.

Lebih lanjut, Safrial menjelaskan pengangkatan yang bersangkutan dijalankan sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku.

Ini berdasar rekrutmen dari tenaga honorer yang sudah mencukupi batas waktu pengabdian tertentu, diperbolehkan rekrutmen CPNS diatas usia 35 hingga 40 tahun.

“Kemarin ada yang bilang ada pegawai negeri illegal. Baca aturan itu, baca dulu. Makanya saya malas komentar,” tutur Safrial.

“Kalau sudah honor sekian tahun berturut turut boleh umur lebih dari 35 sampai 40 tahun, baca itu,” imbuhnya kesal.

Sementara berdasarkan persyaratan perekrutan CPNS tahun 2010 tersebut menyebutkan, BERUSIA LEBIH DARI 35 (TIGA PULUH LIMA) TAHUN DAN SETINGGI-TINGGINYA 40 (EMPAT PULUH) TAHUN PADA TANGGAL 1 JANUARI 2011 BAGI YANG BEKERJA PADA INSTANSI ATAU LEMBAGA SWASTA YANG BERBADAN HUKUM YANG MENUNJANG KEPENTINGAN NASIONAL PALING KURANG 13 (TIGA BELAS) TAHUN 9 (SEMBILAN) BULAN SECARA TERUS-MENERUS DAN TIDAK TERPUTUS SAMPAI DENGAN TANGGAL 1 JANUARI 2011 DAN MASIH MELAKSANAKAN TUGAS PADA INSTANSI ATAU LEMBAGA SWASTA TERSEBUT, DENGAN MELAMPIRKAN PHOTO COPY SK PENGANGKATAN PERTAMA SAMPAI DENGAN SEKARANG YANG TELAH DILEGALISIR (CAP DAN TANDA TANGAN ASLI) OLEH PEJABAT
YANG BERWENANG;.

Diketahui, perekrutan CPNS tahun 2010 bukan secara khusus pengangkatan dari Tenaga Honorer menjadi PNS melainkan pembukaan/penerimaan CPNS melalui umum dan terbuka secara umum, perekrutan tenaga honorer menjadi CPNS dilakukan tahun sebelumnya.

Dan berdasarkan informasi dan data yang berhasil dihimpun media ini, nama oknum AA disinyalir kuat tidak tercantum dalam SK tenaga honorer Setda Tanjab Barat selama 13 Tahun 9 Bulan berturut – turut dan tidak terputus, sementara dalam persyaratan tersebut menyebutkan : BAGI YANG BEKERJA PADA INSTANSI ATAU LEMBAGA SWASTA YANG BERBADAN HUKUM YANG MENUNJANG KEPENTINGAN NASIONAL PALING KURANG 13 (TIGA BELAS) TAHUN 9 (SEMBILAN) BULAN SECARA TERUS-MENERUS DAN TIDAK TERPUTUS SAMPAI DENGAN TANGGAL 1 JANUARI 2011 DAN MASIH MELAKSANAKAN TUGAS PADA INSTANSI ATAU LEMBAGA SWASTA TERSEBUT, DENGAN MELAMPIRKAN PHOTO COPY SK PENGANGKATAN PERTAMA SAMPAI DENGAN SEKARANG YANG TELAH DILEGALISIR (CAP DAN TANDA TANGAN ASLI) OLEH PEJABAT
YANG BERWENANG;.

“Rekrutmen 289 bukan dari honorer untuk PNS melainkan rekrutmen umum, bila oknum AA merupakan tenaga honorer selama 13 Tahun 9 Bulan secara terus menerus dan tidak terputus mengapa tidak mengikuti rekrutmen pengangkatan tenaga honorer menjadi PNS tahun sebelum 2010, ‘kan ada 3 tahapan pengangkatan honorer saat itu kalau tidak salah. Disini kita menduga adanya maladministrasi tentang kelebihan usia.” ungkap Mukhtar, AB.

“Perlu digaris bawahi PALING KURANG 13 (TIGA BELAS) TAHUN 9 (SEMBILAN) BULAN SECARA TERUS-MENERUS DAN TIDAK TERPUTUS SAMPAI DENGAN TANGGAL 1 JANUARI 2011. Masyarakat awam pun faham dengan bahasa persyaratan tersebut, jgn bawa – bawa gelar doktor itu gelar akademik nanti runyam.” tambahnya.

“Kita Tak Pernah Bicara gelar pimpinan dalam hal ini Bupati, kita tidak juga mendiskreditkan beliau, tidak ada bahasa Doktor Abal – Abal, kita bicara oknum ASN berinisial AA dan dugaan Maladmistrasi yang terjadi.” Tambahnya lagi.

Mukhtar juga menyebutkan, terkait pembelaan Bupati pada Oknum ASN berinisial AA secara gamblang tanpa memperhatikan dan menelaah lebih jauh, dia menilai itu bukan H. Safrial yang bicara.

“Saya kenal H. Safrial yang merupakan tokoh intelektual dengan latar belakang dosen universitas, saya menduga hal tersebut bukan statmen dari Bupati Tanjab Barat, itu bukan tipikalnya. Semoga tidak terjadi kembali pencatutan nama Bupati untuk kepentingan oknum – oknum yang berkepentingan dalam hal ini.” Timpalnya. (St*2)

Komentar