Wabup H. Amir Sakib Dinilai Lebih Berintelektual Dari Bupati H. Safrial Dalam Menyampaikan Aspirasi Kepada Pemprov Jambi

Ma. Bungo – jurnalbidas.com. Tidak seperti Bupati Tanjab Barat, H. Safrial yang dinilai hanya berani menyampaikan kekecewaannya, dalam sambutannya pada pembukaan Musrembang RKPD Tanjab Barat Tahun 2020 terkait pengembangan jalan dari Simpang Teluk Nilau sampai ke Tebing Tinggi yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun pertama kepemimpinan Gubernur Jambi.

Hadir pada Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) RKPD Tahun 2020, yang dilaksanakan di Hotel Semangi, Muaro Bungo, Kamis (28/03). Wakil Bupati Tanjab Barat, Drs. H. Amir Sakib, lebih berintelektual dalam menyampaikan aspirasi mengenai pengembangan jalan dari Simpang Teluk Nilau sampai ke Tebing Tinggi melalui Musrenbang RKPD Tahun 2020 ini,

Wakil Bupati Tanjab Barat Drs. H. Amir Sakib menyampaikan harapannya, bahwa melalui Musrenbang ini Pemerintah Provinsi dapat mengabulkan pengajuan Pemkab Tanjab Barat atas pembangunan infrastruktur di kabupaten Tanjab Barat.

“Kita mengusulkan ke propinsi untuk infrastruktur pembangunan jalan, pendidikan dan kesehatan dan Imtek, dan melalui kewenangan provinsi, infrastruktur jalan yang sudah menjadi kewenangan provinsi dapat terealisasi tahun ini,” harapnya.

Lebih lanjut, Wabup mengungkapkan Pemkab Tanjab Barat meminta komitmen gubernur agar pembangunan jalan Simpang Teluk Nilau – Tebing Tinggi tuntas 3 tahun kedepan.

“Pemkab minta komitmen Gubernur agar pembangunan Jalan Simpang Teluk Nilau hingga Tebing Tinggi tuntas 3 tahun kedepan, dan sekarang baru tercapai kurang lebih 50 persen sejak ditangani provinsi, jadi melalui Musrenbang kembali kita ajukan kembali pembangunan itu,” tutupnya.

Terpisah, menurut pengamat dan pemerhati sosial budaya Adi Aspandi mengatakan bahwa sejatinya selaku penyelenggara pemerintahan yang dilakukan oleh Wabup itu sudah benar, sesuai dengan citra dan tatakrama seorang pejabat publik yang berintelektual.

“itu baru pejabat publik yang memiliki intelektual dan berintelektual, menyampaikan suatu hajat pada tempatnya. Tidak berkoar – koar dimedia mengungkapkan kekecewaan, seperti teriakan tendensius di medsos yang dilakukan untuk tujuan tertentu.” ungkapnya.

Dia menambahkan, mungkin seharusnya Bupati dapat memperbaiki cara berkomunikasi dan memanfaatkan media agar masyarakat tidak salah menilai hingga melahirkan prasangka image kurang baik dimata masyarakat.

“Intropeksi, lebih mendalami cara berkomunikasi dan memanfaatkan media agar tidak melahirkan prasangka image kurang baik dimata masyarakat Tanjab Barat pada umumnya.” tukas pria paruh baya ini. (St*2)

Komentar