WIW,,, TERNYATA LAPOND AGREGAT KLAS A 20 CM

Kuala Tungkal – Bidas. Peningkatan jalan kihajar dewantara – siswa ujung yang selesai di kerjakan pada 07/08/2017 lalu oleh pihak rekanan PT. BERINGIN CITRA LESTARI dengan no kontrak 620/93/KONT/KONS-PPK-BM/DPUPR/2017 memiliki lapond agregat klas A jelas RA, sebut saja yang tak berkenan namanya di publikasikan. ” Peningkatan jalan kihajar dewantara – kuala indah tersebut memiliki lapond aggregat klas A, dengan Ketebalan 20 cm, dengan Lebar 550 cm, yang seharusnya item pekerjaan tersebut di awasi oleh PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan) yang terkesan tutup mata.” Ungkapnya.

Lanjut RA, “Yang lebih cantik lagi itu, ketika nanti bila akan jadi temuan biasanya pihak PPTK tak akan mendapat sanksi dan sebagainya dan hanya akan pengembalian uang dari pihak rekanan, bayangkan bila luput dari pemeriksaan atau ada rekayasa lapangan hingga item hamparan Lapond agregat klas A tersebut di anggap telah benar di kerjakan dan di cairkan 100% dengan persetujuan pihak PPK. Berapa kerugian yang di alami daerah tanjab barat ini oleh oknum PPTK yang seharusnya mengawasi ketat pengerjaan item agregat klas A.” Papar RA.

Masih RA, “Seandainya lapis pondasi agregat klas A ketebalannya 20 cm, lebar 550 cm, dan panjang 2530 m, maka akan kita dapati sekitar 2761 meter kubik. Dan bila dalam RAB hanya di pinta sekitar 2750 meter kubik maka ada kelebihan penghamparan agregat klas A sekitar 11 meter kubik, dan kelebihan tersebut di benarkan dan di setujui dengan di bubuhinya tanda tangan oknum PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Lapangan). Pertanyaannya benarkah ada kelebihan penghamparan, atau malah kurang? Lalu apa sanksi untuk PPTK?.”

Tambah RA, “sekarang kita coba mentaksirkan berapa kisaran kebocoran dana yang di duga dihilangkan oleh rekanan pelaksana dengan sepengetahuan oknum PPTK, bila di pinta dalam RAB sekitar 2750 meter kubik dikali harga perkiraan perkubikasi sebesar Rp. 730.625,70 maka akan ketemu hasil sekitar Rp. 2.009.220.670,00 (dua milyar sembilan juta dua ratus dua puluh ribu enam ratus tujuh puluh rupiah) dan bila di temukan pengerjaan agregat klas A hanya setebal 10 cm maka, separuh dari hasil hitungan tadi terhilangkan dengan persetujuan oknum PPTK dan konsultan pengawas, bayangkan dana sebesar Rp. 1.004.610.335,00 (satu milyar empat juta enam ratus sepuluh ribu tiga ratus tiga puluh lima rupiah) berhasil di kebiri dari pekerjaan tersebut dalam salah satu item saja bisa untuk mengerjakan setapak beton untuk 5 lokasi bila di dalam pekerjaan PL (Penunjukan Langsung).” Beber RA pada Bidas.

“Lalu apa pantas hanya pengembalian dana bila menjadi temuan, bagaimana bila ada dugaan konsfirasi di lapangan yang memang di sengaja demikian guna memperkaya diri sendiri atau orang lain? Dimana para pengawas dan penegak hukum di tanjab barat, hingga hal ini luput dari pantauan mereka sedangkan pekerjaan ini sudah di tinjau oleh TIM TP4D dari kejaksaan negeri kuala tungkal dan terakhir di tinjau ulang oleh pihak Inspektorat, apakah ada temuan dan berapa temuan tersebut tidak di publikasikan sampai detik ini.” Ungkap RA pada Bidas.

Lanjutnya, “Kami sangat berharap agar institusi hukum berperan aktif, bukan fasiv guna mencegah kerugian negara yang terindikasi pada pekerjaan ini. Kami tak ingin mengatakan bahwa pihak hukum terkesan tutup mata di tanjab barat ini, tapi inilah faktanya dan ini lah indahnya kota BERSAMA.” Tutup RA pada Bidas. (sr)

Komentar